Pages

Monday, 12 March 2012

Nilai Galau...!!!

Senin, 12 Maret 2012
Pagi hari di kelas X.3, SMA Negeri 8 Tangerang
Bu Sriwati memasuki kelas pagi itu, dengan membawa beberapa map berwarna cokelat, dan langsung menempati meja guru. Seketika itu juga, seluruh siswa X3ME shock berat, karena map cokelat yang dibawa Bu Sriwati jelaslah hasil ulangan tengah semester minggu lalu.
Beberapa siswa membantu Bu Sriwati membagikan kertas jawaban ulangan kemarin. Widha yang kebetulan saat itu mendapat giliran duduk paling pojok kanan dibelakang ruang kelas (-___-"), menerima selembar kertas polio yang bertuliskan namanya, dan dibawahnya ada hasil usaha kerasnya mengerjakan soal kimia minggu lalu.
Dengan pasrah dan berserah diri (ca elaaah...) Widha melihat nilai yang tertera pada kertas polio itu. Ada 2 pasang angka yang tertulis disana. Pasangan pertama, angka 80 dengan lingkaran beserta coretan ditengahnya. Disebelahnya, angka 75 tanpa lingkaran dan coretan.
Terkejut melihat dua angka itu, tapi yang pasti 75 itu adalah nilainya. Kok bisa cuma dapet segini? Padahal yakin banget bisa dapet 100, soal nya aja sama kayak ulangan harian waktu itu, gumam Widha dalam hati.



Widha mulai merenung beberapa detik. Setelah itu ia berpikir lagi, Oh yaudah. Mungkin emang akunya yang kurang belajar, atau terlalu sombong mankannya dapet segini. Yang penting lain kali lebih berusaha lagi aja, batinnya lagi. Tapi di detik yang sama, Asti, Elis, dan beberapa teman lain mulai mengajukan 'protes' atas nilai mereka. Lalu, Widha mencoba melihat dengan teliti hasil jawabannya.
Ada beberapa nomor yang tidak ditandai dengan tanda checklist atau cross x, nomor 2 dan no 6, telitinya. "Kania, kamu nomor 2 dibetulin nggak?", tanya Widha pada Kania, teman dimeja depannya. "Dibetulin", jawab Kania singkat. "Kamu jawab apa, Kan? Punya aku kok nggak ditandain apa-apa ya?", tanya Widha lebih kepada dirinya sendiri. "Karena ion-ionnya dapat bergerak bebas.", jelas Kania menerangkan jawaban nomor 2. "Emang kamu jawab apa, Wid?", tanya Kania. "Sama...!!", jawab Widha. "Tapi nggak ditandain apa-apa, nomor 6 juga.", curhatnya.
Widha melirik ke kertas jawaban milik Shasha, teman sebangkunya. "Sha, aku kok nomor 6 disalahin ya?", tanyanya pada Shasha sambil mencocokkan jawabannya dengan punya Shasha. Dikertas jawaban Shasha, pada point nomer 6, terdapat penjabaran 4 reaksi redoks, baru jawaban dari soalnya. (FYI : Disoal no.6 disediakan 4 buah reaksi redoks, dan perintahnya, siswa disuruh memilih pada reaksi mana terjadi penaikan ion H). Sedangkan milik Widha, langsung jawabannya, yaitu reaksi ke-4 disertai penjabaran reaksinya. "Apa karena aku nggak dijabarin semua ya, Sha?", tanya Widha lagi. "Iya kali Wid, nggak tahu deh!", gumam Shasha, karena ia pun sedang mendapat masalah pada nilainya.
Karena kasihan melihat Shasha, Widha memutuskan untuk diam saja saat itu. Tapi hatinya berkata (Asseekkk) bahwa jawaban yang ia tulis tidaklah salah. Saat melihat Asti dan teman yang lain sudah tidak mengerumuni meja guru, Widha menghampiri Asti.
"Ti, aku kok nomor 2 disalahin ya?", tanyanya pada Asti yang juga sedang sibuk dengan kertas ulangannya setelah menghadap Bu Sriwati. Widha menyodorkan kertas ulangannya pada Asti, lalu sekilas, Asti membacanya. "Aku salah ya, kalo cuma jawab karena ada ion-ion yang bergerak bebas?", tanya Widha untuk yang kesekian kalinya. "Nggak ada terurainya ya? Kalo nggak ada terurainya, berarti salah.", jawab Asti tegas, tepat, dan cepat. Jawaban Asti semakin mengendurkan niat Widha untuk mengajukan 'protes' pada Bu Sriwati.
*panjang juga nih cerita
Okeh, berarti emang aku yang salah, gumam Widha lagi dalam hati. Tapi, saat Widha ingin kembali ke tempat duduknya, Bu Sriwati langsung berseru. "Itu kan soalnya mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik? Terus kamu jawab apa disitu? Karena larutan elektrolit termasuk kedalam larutan elektrolit.", seru Bu Sriwati lebih kepada Akmal. Dan langsung diikuti sorak tawa anak-anak sekelas. (Akmal ini emang salah satu spesies yang agak unik di X3ME). "Kalimat awalnya salah...", lanjut Bu Sriwati. "Karena terdapat ion-ion yang bergerak bebas, itu baru betul.", jelas beliau lagi. TETOTTT... Galaulah disitu si Widha. Jawaban dia persis kayak apa yang barusan dibilang Bu Sriwati. Tapi kok nggak ditandain apa-apa...
"Terus, aku juga nomer 6 nggak ditandain apa-apa, Ti...", curhat Widha lagi pada Asti. Asti menunjukkan kertas jawabannya. Jawaban no.6 milik Asti, sama seperti Shasha, ke-4 reaksi masing-masing dijabarkan, lalu dijawab mana ion H yang mengalami penaikan atom. Setelah semakin galau, akhirnya Widha kembali duduk ditempat duduknya.
Tak berapa lama kemudian, Elis datang dan berkata "Njung, kamu no 6 harusnya bener Jung, dibenerin kok sama dia, bilang aja.", saran Elis. Okeh... semangat meningkat. Widha akhirnya maju dan memberanikan diri berbicara pada Bu Sriwati masalah nomer 6. "Bu, saya yang nomer 6 cuma jawab begini doang, Bu.", sambil menunjukkan kertas ulangannya. Bu Sriwati memperhatikan sesaat, lalu memberi tanda checklist pada bagian nomer 6. Alhamdulillah... syukur Widha dalam hati. Bu Sriwati lalu mencoret angka 75 lalu menulis lagi 80. Setelah itu Widha kembali ketempat duduknya.
Kegalauan masih mengelilinginya. Masalahnya, nomer 2 itu jawabannya sama persis kayak yang tadi Bu Sriwati jelasin. Lalu, Firliani Sarah datang. "Eh Fir, aku gimana nih nomer 2, aku kan jawabnya ini ya, tapi nggak ditandain apa-apa.", curcol si Widha. "Yaudah bilang aja!", putusnya cepat. "Ihh... tapi nggak enak, tadi baru maju ngurusin nomer 6, masa maju lagi, entar dikiranya apa lagi.", jelas Widha nampak khawatir. "Yeehh... Nilai... lumayan tahu.", celetuk Firliani Sarah. Iya juga sih...  Galau mode on lagi nih si Widha. Akhirnya, ia pun maju untuk yang ke dua kalinya. Ada Yoan dan Fherly menyusul disana.
" Bu, saya nomor 2 jawab ini doang gimana, Bu?", tanyaku lagi. Bu Sriwati kembali memeriksa jawaban milik Widha, lalu memberi tanda checklist lagi, dan TARAAA... nilai 80 yang barusan ditulis dicoret, lalu ditulis lagi 85. Yess...!! teriak Widha dalam hati.
Tapi, Yoan cari masalah. "Tapi kok ini nomor 3 dibenerin?", tanya Yoan sambil menunjuk kertas ulangan milik Widha. Memang, nomer tiga itu harusnya salah.  Dan Widha memang sudah menghitung nilainya tanpa mengikutsertakan nomer tiga (Widha karakter yang tahu diri). "Oh, yaudah berarti nilainya tetep 8", kata Bu Sriwati mencoret lagi angka 85, lalu menulis angka 80 dibawahnya. "Tapi bu.. mm.. ngg...", Widha gagap berusaha mencegah Bu Sriwati, tapi apa boleh buat, akhirnya Widha mengunci mulutnya sesaat. Detik berikutnya, Widha mulai memperjuangkan nilainya. "Tapi Bu, ini udah saya itung, dan ini tuh emang salah.", jelasku belum selesai, dan langsung dipotong Yoan. "Coba kita itung ya...", katanya. "Satu, dua, tiga, empat, ...", Yoan membalik kertas "... lima, enam, tujuh, delapan...Pas..bener...", yakinnya. "Dih... nggak Yo..", sergah Widha. Lalu mereka kembali menghitung tanda checklistnya lagi. Sampai tiga kali, dan akhirnya Bu Sriwati mengambil alih menghitung. Tak berapa lama setelah itu, Bu Sriwati mencoret lagi angka 80 yang baru ditulisnya dan menulis lagi disampingnya, angka 85. Hhhh... perjuangan yang melelahkan.
***
 Stress kan si Widha sama Yoan, ngitung aja pada nggak bisa. Hadeeuuuhh...!! Yaudah, akhirnya jadi deh tuh nilai 85, dengan segala kisah bersamanya. Alhamdulillah sih... tapi musti lebih berjuang lagi di ulangan berikutnya hehehe...
Nih, ada foto nilainya. Firliani Sarah sih, yang bilang ini nilai galau...

1 comment:

  1. Well, I think I heard, somewhere, that my name is mentioned...

    ReplyDelete