Pages

Sunday, 2 April 2017

18th Day : "If you had three wishes, what would they be?"

Langsung aja...
Kalau punya 3 permohonan, mau apa, gitu ya?
Setiap orang pasti punya banyak permohonan. Dan menurutku, permohonan itu adalah sesuatu yang bisa kita usahakan. Maksudnya kalau kita punya suatu permohonan/harapan, misal pengen beli handphone android terbaru, itu bisa kita usahan. Kita bisa kerja, dapet duit, selesai. Pengen pergi keluar negeri, cari cara biar bisa keluar negeri, niatkan, rencanakan, realisasikan, selesai. Setiap permohonan atau harapan kita, bisa kita usahakan, nggak lupa tentunya dengan terus berdoa pada Allah agar harapan kita dikabulkan. Itu definisi singkat permohonan versi Widha wkwkwk

Berhubung ini hanya sekedar postingan blog, aku pengen bikin permohonan yang aku mohonkan adalah sesuatu hal yang sepertinya tidak masuk akal kalau terkabul 😁
Aku punya 3 ya? Oke

1. Pengen ngerasin rasanya jadi anak sekolahan di Jepang

Selalu penasaran sama gimana rasanya jadi anak sekolahan, tapi di Jepang. Yang aku pengenin adalah jadi anak sekolah SD-SMA di Jepang. Gara-gara kebanyakan nonton anime nih wkwkwk... Salah satu yang paling bikin menggiurkan adalah seragamnya. Seragam sekolah di Jepang lucu-lucu, dan aku paling seneng ngeliat cowok pake seragam sekolah yang item-item, wkwkwk

Haikyuu - Seragam sekolah favorit

Tapi udah, cuma itu doang, abis ngerasain jadi anak SD-SMA di Jepang, aku pengen balik lagi jadi Widha yang ada di Indonesia, hahahaha...

2. Kalau boleh ngehapus satu kata dari bumi ini, pengen banget ngehapus kata "Terserah"

Di balik kata terserah itu mengandung banyak makna yang tidak bermakna, dan terkadang menyebalkan. Kata terserah paling sering keluar ketika ada pertanyaan yang membutuhkan suatu putusan.

Q : "Mau makan dimana?"
A : "Terserah"

Q2 : "Kesini dulu atau kesana dulu?"
A2 : "Terserah"

daaan... keterserah-serahan yang lain lagi. Yang terkadang bikin sesuatu hal jadi makin lama. Aku termasuk orang yang sering pada akhirnya memutuskan suatu hal biar nggak jadi terserah lagi. Dan itu ngeselin, beneran. Tapi kalau nggak ada yang kayak gitu, nanti jadi lama. Hal apapun, pasti kalau udah muncul kata terserah itu jadi lama. Itu tuh jawaban yang gantung banget, tidak menyatakan setuju, tapi bukan berarti tidak setuju.
Karena aku nggak suka sama kata "terserah" ini, aku juga berusaha biar nggak mengeluarkan kata-kata itu sebisa mungkin. Memang dalam beberapa sikon, kata 'terserah' ini punya makna yang baik. Terserah yang bikin aku kesel adalah terserah yang kalau disuruh menentukan pilihan itu tadi.
Bagaimana jadinya kalau nggak ada kata terserah ya? wkwkwk

3. ....

Aku bingung permohonan apa lagi yang pengen aku buat. Aku kasih ke kalian aja deh satu permohonan lagi. Ceritain permohonan kalian di kolom komen ya, dan pastikan permohonan itu adalah sesuatu yang rasanya nggak akan mungkin terjadi wkwkwk
Look forward to your responses 😉



Tuesday, 28 March 2017

17th Day : "When was the last time you cried?"

Dudududu ~
Sebenernya ini udah bukan hari ke -17 belas lagi, hahahaha...
tapi pengen ngelanjutin 30 Days Challanges for Blogger

Jadi, tema kali ini adalah kapan terakhir kali aku nangis. Baper banget ya, jadi curhat ini mah...
Honestly, aku sering banget nangis, cengeng banget aku orangnya.
Dan terakhir aku nangis adalah tadi malem, wakakakak.
Nggak nangis yang sampe bener-bener nangis sih, cuma berkaca-kaca dan terharu aja. Dan itu gara-gara baca blog aku sendiri, baca tulisanku untuk diriku sendiri  😅

Kebiasaan, aku sukanya overthinking. Tiap ada satu hal, pikiranku langsung merajalela kemana-mana, dan kebanyakan negative thought. Kalau yang tadi, gegaranya adalah akhir-akhir ini aku ngerasa berat di biodiv. Beberapa waktu terakhir, banyak hal-hal yang terjadi di biodiv dan aku nggak bisa melibatkan diriku di dalamnya. Bikin pra-proposal phbd, aku nggak ikutan. Bikin persiapan expo, aku nggak ikutan. Bikin artikel buat buletin fauna nggak jadi-jadi (dan sekarang aku malah ngeblog 😟). Laporan EWM terbengkalai. Aku juga jarang ke bivak. Secara tingkatan, aku senior, tapi Deka, Yoshe, dan Ayu yang lebih ngayomin anggota baru. Dan aku paling nggak suka beralasan. Kalau aku care harusnya aku bisa meluangkan waktu. Jadi keinget waktu EWM tahun lalu, ada kakak tingkat yang bilang "Saat seseorang nggak hadir, bukan berarti seseorang itu nggak mikirin, bisa jadi dia juga bantu ditempat lain". Dulu sih itu bisa meluruskan pikiranku, tapi sekarang, aku pikir kehadiran adalah segalanya. Entah di biodiv, entah di SIM. Bukan sekedar muncul di group, bukan sekedar kalau ketemu pas kuliah nanyain kabar, tapi diluar itu, saat emang ada tugas, hadir, dateng ke bivak, bantu apapun yang bisa kamu lakukakan, that's matter.

Monday, 27 March 2017

Not Answered

Time flies by so fast.
Nggak kerasa udah semester 6 aja. Obrolan sama temen-temen ketika makan berputar diantara topik semprop - tema skripsi - proyek dosen - kkn - wisuda - kerja - belum sampe ke topik nikah sih, wkwkwk. Belum punya e-ktp soalnya, jadi nggak bisa daftar nikah :)

Ngomongin soal skripsi dan projek dosen, 3 orang temenku nanya pertanyaan serupa dan aku nggak bisa jawab. 

Pertama Khansa, she comes with "aku bingung mau pakai ideku sendiri atau ngambil proyek Bu Ratna..."
Khansa yang kukenal adalah Khansa yang selalu prepare dari awal. Nggak heran dia udah punya bayangan sendiri soal skripsi nanti mau ngapain. Bahkan seingetku, dia udah mulai nyari nyari materi untuk uji antibakteri dari semester 5 kemaren. Yang bisa aku lakukan mendengar pernyataan Khansa adalah balik bertanya, "emang proyek bu ratna apa?", kemudian Khansa cerita gambaran umum kenapa dia bingung. Penelitian skripsi dengan tema antibakteri bisa dilakukan, memungkinkan, fasilitas memadai, yang berarti aman... cuma biaya ditanggung sendiri, dan sepertinya itu bukan masalah berarti bagi Khansa. Proyek dosen bisa juga dilakukan, cuma nggak bisa sesuai dengan keinginan sendiri, dan belum tentu mudah, tapi alat, bahan, biaya, semua terjamin, dengan kata lain, aman...
Biasanya, kalau ditanya pendapat, aku langsung nyerocos "Menurutku blablabla...", tapi untuk kali ini aku cuma bisa diem dan merespon "hmmm..." sambil ngangguk-ngangguk. Aku bener-bener nggak tahu harus jawab apa. Logikaku kalau ditanya begitu biasanya pasti langsung mencoba memposisikan diri jadi orang yang nanya. Tapi kali ini, sama sekali nggak bisa. Akhirnya aku cuma bisa jawab "Pilihan yang manapun baik Sa"
Terus aku pergi, dan dijalan tiba-tiba keinget kata-kata Egy si tamvan dan pemverani, "Pilih pilihan yang mendekatkanmu pada Allah", sempet menghentikan langkah kaki dan niat berbalik menyampaikannya pada Khansa, tapi ah sudahlah.

Saturday, 17 September 2016

Reflection

First,
Bahkan benar dan salahpun punya subjektifitas

Hal yang ini aku sadari udah sejak lama, tapi baru kerasa banget ketika makan bareng sama temen-temen, rame-rame. Warungnya lagi rame banget, pesenan bertumpuk-tumpuk, kitapun datengnya gerombolan nggak tahu diri gitu. Udah mesen kan, agak lama terus pesenan dateng. Belum semuanya kebagian pesenan. Jadi, diwarungnya itu nasi sama ayamnya dipisah dipiring yang berbeda (kita makan diwarung penyetan waktu itu). Masing-masing orang seharusnya dapet 2 piring. Beberapa pesenan udah dateng tuh, tapi masih kurang, teruuuus... sebenernya didepanku itu udah ada 2 piring : 1 piring nasi + 1 piring ayam. Komplit kan tinggal nunggu pesenan temen yang lain lengkap, terus kita makan bareng. Beberapa temen ada yang belum dapet pesenannya waktu itu, karena emang ngantri banget. Eh, tahu-tahu, temen yang duduk diseberangku (panggil saja Mimosa) ngambil piring yang ada didepan aku yang isinya lauk, terus dia kasih ke temenku yang lain (kita panggil dia Bronco) yang belum dapet pesenan sama sekali. Aku udah manggil Mimosa sebenernya, mau bilang kalau itu pesenanku, tapi nggak denger mungkin orangnya karena rame banget. Alhasil, aku cuma dapet 1 piring nasi tanpa lauk, dan Bronco dapet 1 piring lauk, tanpa nasi *laugh
Tapi Mimosa merasa dia melakukan sesuatu yang benar dengan perhatian ke temennya yang belum dapet pesenan tanpa sadar kalau ternyata dia malah mengurangi 1 peluang seorang pelanggan mendapat pesanan yang lengkap.
Intinya adalah dibalik cerita itu : Mungkin kita merasa kalau kita udah ngelakuin sesuatu hal yang bener, dengan segala rasa bangga dan percaya diri yang kita punya. Tapi ternyata nggak, pasti ada aja, ada aja, entah dari sudut pandang siapa, hal yang kita lakuin dan menurut kita bener itu, ternyata salah. Dan nggak ada yang bisa disalahin emang. Terus harus gimana kalau gitu? Kita udah berusaha buat berlaku bener tapi ternyata tetep pasti ada yang nganggep salah.
Solusinya : Tetep lakuin hal yang menurutmu benar, tanpa perlu khawatir siapa yang akan menganggap hal yang kamu lakuin itu salah. Tetep percaya diri, tetep merasa bangga, dan saat tetep ada orang lain yang menganggap kalau itu salah, MENGALAH. Setujui kalau yang kamu lakuin itu salah, tapi tetep kembali kesolusi 1, percaya dan yakin sama yang kita lakuin. Saat kita ngerasa emang itu perlu diubah, berusaha ubah, tapi saat kita ngerasa itu fine-fine aja, there's nothing to change then.

Second,
Diam dan mengalah terkadang merupakan cara terbaik

Ada saatnya, (ada saatnya lho bukan selalu) saat kita merasa nggak setuju atau ingin marah, MENGALAH malah jadi solusi terbaik.

Third,
I somehow understand what this statement really meant "Jangan lihat hasilnya, tapi lihat prosesnya"

Jadi, dari statement itu kita punya 2 point of view : 1. People's and 2. Us
People's will stand in result point of view, but Us will stand in process point of view.
Eiitss... hati-hati! Kita semua pernah berada pada posisi keduanya, baik itu People's point of view atau Us point of view

Fourth,
3 times "Akan ada saatnya"

Pengalaman 1 : Inget Pak Ohin nyemangatin waktu SMA aku belum keterima kuliah dimanapun, setiap pengumuman hasil seleksi selalu gagal, terus Pak Ohin nanya kabarku, beliau nanya aku keterima dimana, terus aku jawab
"Belum keterima Pak"
dengan bijak dan suara menenangkan, beliau jawab "Nggak papa, nanti akan ada saatnya keterima"
cuma satu kalimat itu doang, keyakinanku full lagi

Pengalaman 2 : Hmm... pengen banget muncak sama temen-temen yang pas aku gagal muncak sama temen-temen Biodiv, mereka bilang, "Tenang Wid, nanti muncak bareng R*ng S*tu" (paham nggak sama kalimatku? wkwkwk) Tapi, seperti biasa wacana mulu, terus yang muncak yaaa sama temen-temennya yang biasa muncak aja, nggak pernah jadi sama R*ng S*tu. Tapi ada yang bilang sih "Akan ada saatnya semua jadi 'no wacana' Wid"

Pengalaman 3 : Widha, lewat tulisan ini aku cuma pengen ngingetin kediri aku sendiri kalau tadi habis dari UNNES, berusaha, tapi hasilnya masih menggemaskan (semoga kamu inget ya pas baca ini), sempet berpikir is that really "Usaha tidak pernah mengkhianati hasil"? But, I still believe it "Akan ada saatnya hasil akan sesuai dengan usaha yang kamu lakukan", jangan berhenti, baru usaha segini doang, semangat! Masih banyak kesempatan, masih banyak temen yang bisa diajak berjuang, Mama sama Ayah juga selalu bilang "Kalau dapet alhamdulillah, kalau nggak ya nggak papa ya, nong", dan Allah always be there
  

Sunday, 28 August 2016

FILM from Widha's Shoes : Part 2

Gawat! Gawat! Ketua FILM 2017 udah kepilih lagi aku masih belum nyelesain ceritaku soal FILM 2016 wakakak
Pertama-tama kita ucapin dulu Selamat buat Ahmad yang terpilih menjadi Ketua FILM 2017! *appaluse

Yeaaay!! We're rooting for you, semoga bisa amanah, selalu diberi kesehatan, dan optimal dalam memimpin temen-temen lain yang nantinya masuk ke kepanitiaan FILM 2017


Kita balik lagi keceritaku soal FILM 2016
Silahkan yang belum baca FILM from Widha's Shoes Part 1 bisa baca dulu disini biar nggak bingung, hehehe... karena kisah ini amat panjang dan menguras pikiran, wkwkwk...

Jadi, setelah terpilihnya secara resmi ketua FILM 2016 yaitu Egy Adhitama, aku nggak pernah lagi denger kabar FILM. Sampe aku pikir mungkin bakal baru setelah reorganisasi kepanitiaan FILM ini dibentuk dan mulai kerja. Aku santai-santai aja, tapi tetep mikir sih "kok belum ada kabar lebih lanjut soal FILM ya..." Secara pribadi aku memang meniatkan diri untuk aktif di SIM, nah adanya FILM ini jadi momentum luar biasa. Aku udah mikir-mikir tuh kira-kira kalau nanti ada pemilihan buat masuk kepanitiaan FILM, aku pengen masuk di sie apa. Pilihan pertamaku adalah aku pengen coba mencalonkan diri buat jadi sekretaris, soalnya aku suka berhubungan dengan surat-menyurat, kerapihan (seorang sekretaris identik dengan rapi menurutku), sama kayaknya kerjanya nggak terlalu berat, paling bikin surat, proposal, dll (dan setelah ini ternyata pikiranku salah soal sekretaris, wkwkwk).

Monday, 18 July 2016

Ekspedisi Wukir Mahendra 2016 D-20

Tahun ketiga EWM dilaksanain, I've been thinking so much... about everything. EWM sendiri merupakan "momentum" buat KS Biodiv sama KS Kepak Sayap Biologi UNS buat ngelaksanain riset. Buat temen-temen yang belum tahu, Wukir Mahendra itu adalah nama lain dari Gunung Lawu. Tujuan kegiatannya sebenernya sederhana tapi amat bermanfaat : Inventarisasi keanekaragaman hayati meliputi flora dan fauna, serta sosial budaya masyarakat Gunung Lawu. Gunung Lawu sendiri dibagi jadi 4 lereng, yaitu barat, timur, utara, dan selatan. EWM tahun pertama di lereng selatan, tahun kedua di lereng barat, dan EWM ketiga alias tahun ini, insyaAllah bakal dilaksanaain di lereng timur Gunung Lawu. Panjang banget ceritanya kalau diceritain dari latar belakang sampe penutup, wkwkwk...

Boleh banget sambil liat Trailer EWM 2016


Sunday, 27 March 2016

FILM from Widha's Shoes

Apa sih FILM? Temen-temen yang tahu pasti langsung pada senyum-senyum, kalau yang belum tahu pasti ngira FILM seperti film pada umumnya...

Jadi, FILM itu adalah Festival Ilmiah Mahasiswa, agenda besar ini merupakan branding dari serangkaian acara yang diadakan oleh UKM Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) UNS. Alhamdulillah aku dikasih kesempatan sama Allah buat tergabung dalam kepanitiaan FILM.
Udah dari kemaren banget pengen ngepost tentang FILM, akhirnya hari ini ngepost juga gara-gara nggak bisa tidur. Aku pengen nyeritain semua hal tentang FILM kemaren, hmmm nggak semuanya sih, tapi cukup buat bikin kalian bisa ngerasain jadi aku saat FILM wkwkwkwkwk, kalau yang nggak mau jadi aku nggak usah baca -___-